Thursday, March 22, 2007

Hakim

Pada suatu hari ditahun’83
.
Kok kamu nangis?
Kenapa , me?
Me benci sama orang2. Disela tangis me.
Orang2 siapa me?
Ya, orang2! Me triak.
.
Sini, me... Bicara pelan2 sama papa, ceritalah.
.
Me kan tadi ke toko...
Dipinggir pertokoan me papasan sama orang,
Me tau dia kakaknya temen me.
Trus, dianya negor me.
Eh, lu temennya adik gw ya?
Iya. Jawab me.
Dan lu adiknya si aa ya?
Iya, kenapa?
Lu jangan bawa2 adik gw jadi nggak bener ya.
Kalo bisa lu jauhin adik gw.
Gw nggak mau adik gw bertemen ma lu lagi.
.
Papa, rasanya me ingin masuk suatu lubang.
Lubang yang orang2 nggak bisa nemukan me lagi.
Kejadian seperti ini sering, papa.
Nggak sekali dua kali. Ini nyakitin banget, pa.
Hiks!
.
Rasanya nggak adil, papa.
Me tau betul walaupun si aa sering bolak balik fatmawati.
Tapi bukan berarti si aa orang jahat, papa.
Si aa bukan orang jahat!
Dan me juga bukan orang jahat.
.
Me, jangan biarkan orang2 itu membuat kamu sedih dan menangis.
Jangan biarkan mereka menyakiti kamu dengan omongan2.
Biarkan mereka bicara apapun.
Ingat, yang berhak menghakimi diri kamu adalah diri kamu sendiri.
Karna hanya kamu sendiri yang tau baik buruknya diri kamu.
Baik, jadilah slalu baik.
Buruk, perbaikilah untuk menjadi baik kembali.
Slalulah, mawas diri.
.
Jangan perdulikan mereka.
Orang2 seperti itu tidak ada manfaatnya untuk kamu.
.
Dan ingat juga, me.
Ada hakim diatas kamu yang maha tau dan bijaksana.
Serahkan diri kamu kepadaNya.
Bukan pada orang2 itu.
.
---
.

0 comments: