Tuesday, March 13, 2007

Tidak Slalu


Pada suatu hari di tahun’84
.
Papa, me ingin tanya sesuatu.
Tapi janji papa jangan marah ya?
Apa itu me?
Janji? Papa nggak bakal marah?
Tergantung, apa pertanyaan kamu itu.
.
Apakah akan membuat papa marah atau tidak?
Justru me nggak tau...
Makanya me ragu juga utk menanyakan ini,
karna me pikir sopan tidaknya pertanyaan ini untukk papa.
Tapi me slalu ber-tanya2 sendiri. Makanya me memberanikan diri.
.
Apa itu me? Ulang papa.
Papa janji nggak marah? ulang me lagi.
Ok, papa janji nggak akan marah.
.
Maafin me sebelumnya ya, papa...
Me tau dan mengenal hampir smua sepupu papa.
Ya, si uwak, si mamang dan si bibi.
Dan me liat sangat baik dan dekat sekali hubungan papa dengan mereka.
Tapi kenapa si mamang yang satu itu nggak pernah terlihat kumpul sama2?.
Dulu waktu me kecil si mamang slalu ada dirumah kita.
Trus tiba2 menghilang dan me merasa kehilangan.
Dan sejak itu si mamang nggak pernah ada.
Kalo smua sepupu dan papa sedang berkumpul.
Me pernah tanyakan sama mama tentang ini,
tapi mama kasih tanda jari dimulut.
Dan sikap mama itu makin bikin me penasaran.
.
Ada apakah gerangan?

Me, apakah pertanyaan harus slalu terjawab?
Tidak slalu, me...
Kata papa sedikit berbisik.
.
Oh!
Me hanya bisa ber-Oh...
.
Papa menghargai keperdulian
dan keberanian kamu untuk menanyakan ini ke papa.
.
Maafin, kalo me lancang pa.
Kalo emang papa tidak ingin menjawabnya, gpp...
Me akan berusaha mengerti.
Bukankah pertanyaan tidak slalu harus terjawab, pa?
Me sambil senyum dan papa balas senyum.
.
Paling tidak papa tersenyum dan tidak marah.

0 comments: